Siapa bilang yang bisa manjat-manjat dinding itu cuma Spider-man? Kamu juga bisa kok, asal ikutan olahraga ini, climbing. Olahraga yang satu ini, memang populer di kalangan anak - anak remaja jaman sekarang. Banyak yang mengira kalo climbing itu cuma manjat-manjat nggak jelas. Padahal, ada banyak manfaat dari olahraga ekstrim yang satu ini. Biarpun dibilang ekstrim, tapi sebenarnya climbing ini tidak se-ekstrim yang kalian pikir lohh, selama kamu tau bagaimana cara menggunakan peralatan – peralatan pendukung olahraga ini dengan benar. Dan kengerian yang tadinya kamu pikir itu akan berubah menjadi sebuah kesenangan dan kepuasan tersendiri bagi kamu.
Climbing
itu sendiri ialah salah satu dari sekian banyak olahraga alam bebas dan
merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan
dengan cara berjalan kaki, melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik - teknik
tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya, climbing dilakukan di daerah yang berkontur batuan, tebing dengan
sudut kemiringan tertentu dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu pula. Pada
dasarnya climbing ialah suatu
olahraga yang mengutamakan kelenturan dan kekuatan tubuh kita, serta
keterampilan baik menggunakan peralatan maupun dalam mengakali tebing itu sendiri
dengan memanfaatkan kontur batuan.
Pada
perkembangannya olahraga climbing ini
berubah menjadi berbagai jenis kegiatan: olahraga untuk mengejar prestasi,
petualangan untuk mengejar kepuasan pribadi, dan dijadikan sebagai kegiatan
untuk mencari nafkah.
Sekitar
tahun 1960, climbing mulai berkembang
di Indonesia, dimana tebing di Citatah, Bandung, mulai dipakai sebagai tempat
latihan pasukan TNI AD. Dan tahun 1976 ialah awal mula climbing modern di Indonesia, yaitu saat Harry Suliztiarto mulai
berlatih memanjat di Citatah, Bandung dan diteruskan dengan mendirikan SKYGERS
"Amateur Rock Climbing Group" dengan tiga orang temannya, Heri
Hermanu, Dedy Hikmat dan Agus R., di tahun 1977.
Lalu
tahun 1980, Tebing Parang, Purwakarta, Jawa Barat. Untuk pertama kalinya dipanjat
oleh team ITB, dan di tahun yang sama Winandri menjadi team Indonesia pertama
yang melakukan ekspedisi ke Cartenzs
"Pyramide", mereka gagal
sampai di puncaknya, namun mereka berhasil di Puncak Jaya dan Cartenzs Timur.
Kemudian
tahun 1988, Kantor Menpora bekerjasama dengan Kedutaan Besar Perancis untuk mengundang
empat climber mereka untuk memperkenalkan
dinding panjat serta memberikan kursus pemanjatan. Pada akhirnya, terbentuklah
sebuah Federasi Panjat Gunung dan Tebing Indonesia ( FPTGI ), yang diketuai
oleh Harry Suliztiarto. Pada tahun yang sama juga, Ekspedisi Jayagiri Speed Climbing membutuhkan waktu lima hari untuk
pemanjatan, yang menjadi penyebab kagagalan untuk memenuhi target dua hari
pemanjatan di Dinding Utara Eiger, Alpen, dan Perancis. Sedangkan ekspedisi
dari Pataga Jakarta berhasil menciptakan lintasan baru pada dinding yang sama.
Keberangkatan Sandy Febriyanto dan Djati Pranoto ke Yosemite, AS. untuk
memanjat Half Dome guna memecahkan rekor Speed Climbing, pada tahun 1988, dan
mengalami kegagalan pula di El Capitan.
Dan
hingga sekarang climbing ini terus bertambah
kepopularannya, hingga semakin banyak pula peminatnya, meski awalnya hanya
melihat saja orang – orang dapat melihatnya akan sangat terkagum dan tersulut
api semangatnya.Tetapi,
berawal dari hal kecil yakni melihat, membuatanya memiliki dedikasi yang tinggi
untuk dapat terus melakukan apa yang dulu pernah dilihatnya.
Cabang
olahraga climbing, yaa itu lah apa yang dulu pernah dilihatnya sewaktu masa
Sekolah Dasar ( SD ), berawal dari sang kakak yang memiliki hobi di cabang
olahraga climbing, ia pun mulai
tertarik untuk menggeluti cabang olahraga yang sama pula. Meskipun saat itu
usianya masih terlalu dini untuk olahraga yang cukup ekstrim ini, tapi ia tidak
pernah sekalipun menyerah, yaa meski mungkin sesekali perasaan ingin menyerah
tersebut sempat terlintas dalam pikirannya. Ia mencoba untuk melawan rasa ingin
menyerah tersebut, meski berapa kali pun ia terjatuh, ia tetap mencoba untuk
tetap tegak berdiri, tak ada yang mengetahui sudah berapa banyak keringat
bercucuran yang ia keluarkan, tak ada yang dapat memadamkan api yang membara
dimatanya, hingga akhirnya membuatnya menjadi seorang pria yang memiliki
dedikasi yang tinggi seperti sekarang.
Dialah
Ady Yono, pria kelahiran 15 Oktober 1988 Tangerang Selatan, atau dapat kita
panggil Yono. Di saat Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) Yono sudah
memperlihatkan jerit payahnya dalam cabang olahraga climbing. Ia beberapa kali memenangkan kejuaran climbing tingkat
SMP. Hari demi hari Yono terus mengasah kemampuannya dalam climbing, waktu
terus berjalan baginya bagaikan melihat sebuah tebing raksasa yang sulit
ditaklukkan. Sekolah Menengah Atas hingga akhirnya kuliah tanpa sadar Yono
telah mengasah kemampuannya lebih dari siapapun juga. Prestasi demi prestasi
pun mulai Yono dapati, ia meyakini semua yang dilakukannya selama ini tidak ada
yang percuma, terdapat kepuasan tersendiri saat ia berhasil menaklukkan sebuah
tebing, kepuasan yang dapat menenangkan hatinya dan dapat membuat sebuah
senyuman muncul diwajahnya. Karena menurutnya tidak semua orang dapat
menaklukkan sebuah tebing baik tebing buatan yang hanya untuk olahraga semata
pun.
Hingga
suatu ketika prestasi yang dihasilkannya membuat Yono naik ke tingkatan
selanjutnya. Ia diajak untuk bergabung dengan sebuah team climbing besar, yakni
Indonesian Big Wall Project yang mendapat sponsor besar seperti Caldera
Indonesia.Yono pun menjadi salah satu dari empat climber utama dalam team ini,
sambil menjalankan pendidikannya di Universitas Trisakti ia terus memanjat dan
memanjat, sudah berbagai gunung ia panjat baik dalam negeri maupun luar negeri.
Salah satu tebing pernah ia panjat didalam negeri ialah tebing Parang yang
berada di daerah Purwokerto, dengan ketinggian 450 meter, dan tebing Citatah
yang berada di Bandung dengan ketinggian 125 meter. Bersama team Indonesian Big
Wall Project Yono semakin menemukan jati dirinya sebagai seorang climber.
Banyak ilmu yang ia dapat pelajari selama bergabung dengan team ini. Dan dengan
team ini pun Yono dapat menaklukkan tebing-tebing dunia. Menurut team ini,
belum ada para climber Indonesia yang berambisi untuk dapat menaklukkan
tebing-tebing raksasa dunia diluar negeri sana karena mungkin terbentur finance
dan lain-lainnya. Sehingga Indonesian Big Wall Project ini menjadi wadah bagi
para climber yang memiliki ambisi yang lebih dari siapa pun juga.
Terakhir
Yono team Indonesian Big Wall Project berhasil menaklukkan beberapa tebing
raksasa dunia, seperti Mount Blank yang berada di Perancis dengan ketinggian
sekitar 950 meter, terus Stetind dan Lofoten yang berada di Norwey dengan
ketinggian sekitar seribuan meter, dan Greenland. Dapat anda bayangkan betapa
tinggi dan menyeramkannya tebing-tebing tersebut dengan ketinggian seperti itu.
Namun, Yono dan Indonesian Big Wall Project berhasil manaklukkannya dengan
kegigihan yang luar biasa.
Adapun
beberapa teknit pemanjatan dalam olahraga climbing
ini, yaitu; free climbing merupakan
tehnik memanjat yang hanya menggunakan keterampilan tangan dan kaki dalam
olahraga climbing ini, sedangkan
peralatan hanya digunakan untuk mengamankan diri pemanjat itu sendiri bila
jatuh dan tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya digunakan pada
lomba memanjat. Bouldering yaitu tehnik
pemanjatan yang dilakukan pada tebing-tebing pendek secara rutinitas, biasanya
dilakukan untuk melatih kemampuan seorang climber.
Soloing yaitu tehnik pemanjatan yang
dilakukan baik tebing pendek ataupun tinggi dengan sendiri tanpa menggunakan
peralatan. (Artificial) Climbing
yaitu biasanya pada tehnik pemanjatan ini, pemanjat menggunakan secara langsung
peralatan untuk menambah ketinggian pemanjatannya. Biasanya digunakan pada
pembuatan jalur.
Dan
masih banyak hal lagi menarik dari cabang olahraga climbing ini, makanya jangan hanya melihatnya, cobalah sendiri dan
rasakan sensasi dari olahraga climbing ini.
Ujang
Adi Bahrudin - 1571500097

0 komentar:
Posting Komentar