“Karena
kalau kita menggambar, gak mungkin cuman sekali aja.” Itulah filosofi di balik
nama More Than One(MTO), ucap Nuttwo, salah satu founder MTO. MTO sendiri
adalah komunitas mural yang dibentuk pada bulan agustus tahun 2012 di Jakarta.
Awalnya, MTO hanya memiliki 2 anggota sekaligus founder, Mosttwo dan Nuttwo.
Tidak lama setelah itu, bertambah lagi anggotanya menjadi 4 orang, hingga
sekarang sudah memiliki 10 anggota.
Tapi memang, apa sih
itu mural? Mural itu adalah seni yang biasa di lukiskan di jalanan oleh Sekelompok orang yang menggoreskan kuas di
tembok-tembok untuk menggambarkan suasana hati mereka bahkan menyampaikan
harapan. Tidak sekadar berupa grafiti, yang berarti goresan atau
tulisan-tulisan dengan cat semprot, tetapi lukisan mural.
Ya, biarpun terkesan sama, mural itu tidak sama dengan graffiti yang
lebih berkesan merusak pemandangan, mural adalah seni murah di jalan yang tidak
murahan. Murah karena bisa di lihat siapapun, tapi bukan murahan karena
memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Itulah tujuan seni yang dimiliki
kelompok MTO. MTO sendiri juga lebih sering melukis di tembok yang awalnya
sudah dikotori oleh graffiti-graffiti yang merusak pemandangan, dan
menimpalinya dengan lukisan yang lebih menarik dan enak dilihat.
Tapi selain melukis di
jalanan, MTO juga sering di undang untuk melakukan job dan mengisi event
gambar. Job yang biasa di terima MTO itu berupa menggambar mural dan seni di
kafe-kafe yang baru di buat. Tidak aneh juga karena MTO sendiri pernah
mendapatkan penghargaan di Hello fest.
Tapi kenapa MTO
lebih memilih jadi kelompok mural? “Karena mural itu lebih bebas dan lu bisa
menggambar apa yang lu mau. Lalu misalnya kalau gambar yang lain, gambar lu
paling hanya di tampilkan di galeri, dan yang melihat hanya sedikit. Tapi kalau
mural, kita gambar di jalan otomatis orang juga mau gak mau bakal melihat
gambar lu.” Ucap Nuttwo.
Biarpun begitu,
bukan berarti MTO selalu bebas dari masalah.”Karena dasarnya mural itu kan seni
jalanan yang illegal. Biarpun kita menambal yang udah di buat orang, tetap saja
judulnya kita menggambar di tempat yang gak semestinya.” Ucap Nuttwo.
Apa berarti MTO pernah
terkena masalah? “Pernah waktu itu temen di tangkap, cuman sebagai satu tim,
kami bersama sama bantu dia supaya bebas lagi. Nggak sampai di bawa ke kantor
sih, dia waktu itu dibawa sampai ke pos marinir aja. Kami waktu itu kalau nggak
salah ber-3 dan gua yang ngebantu ngomong ke marinirnya.” Ucap Nuttwo
Tapi pada dasarnya,
pelaku mural itu tidak bisa di penjarakan. Karena berbeda dengan graffiti,
Mural itu tidak membuat kotor dinding yang masih bersih, tapi justru membuat
dinding yang kotor mejadi terlihat bagus lagi. Karena itu, dasarnya pelaku seni
mural tidak begitu takut.
Karena mural adalah
saluran hati rakyat. Disaat sudah tidak ada yang mau mendengarkan, mural lah
yang jadi senjata masyarakat untuk menyampaikan ketidak-sukaannya. Mural itu
adalah seni bebas yang menjadi saluran hati mereka yang tidak di dengarkan oleh
siapapun kecuali oleh mereka yang berlalu lalang di jalanan ramai ibu kota.




Perkembangan
Seni Mural
Mural berasal dari kata
‘murus’, kata dari bahasa Latin yang memiliki arti dinding. Dalam pengertian
kontemporer, mural adalah lukisan berukuran besar yang dibuat pada dinding
(interior ataupun eksterior), langit-langit, atau bidang datar lainnya. Akar
muasal mural dimulai jauh sebelum peradaban modern, bahkan diduga sejak 30.000
tahun sebelum Masehi. Sejumlah gambar prasejarah pada dinding gua di Altamira,
Spanyol, dan Lascaux, Prancis, yang melukiskan aksi-aksi berburu, meramu, dan
aktivitas relijius, kerap kali disebut sebagai bentuk mural generasi pertama.
Mural
mulai berkembang menjadi mural modern di tahun 1920-an di Meksiko dengan
pelopornya antara lain Diego Rivera, Jose Clemente Orozco, dan David Alfaro.
Pada tahun 1930, seniman George Bidle menyarankan kepada presiden AS Roosevelt
agar membuat program padat karya dengan mempekerjakan seniman untuk menciptakan
seni publik dalam skala nasional. Maka dari itu dibuatlah mural-mural yang
telah ditentukan pemerintah. Pada tahun 1933 proyek mural pertama dengan nama
Public Work of Art Project (PWAP) dan didanai pemerintah negara bagian dan berhasil
menjadikan 400 mural selama tujuh bulan. Setelah itu, pada tahun 1935, Pemerintah
Amerika membuat proyek yang kedua dengan nama Federal Art Project
(FAP)
dan Treasury Relif Art Project (TRAP) dan berhasil membuat 2.500 mural dengan
mempekerjakan para penganggur di masa krisis ekonomi. Setelah proyek FAP dan
TRAP sukses, sepanjang tahun 1943 dilaksanakan juga program The Work Progress
Administrasion’s (WPA). Namun, proyek-proyek mural itu dihentikan akibat Perang
Dunia II.
Tahun
1970-1990 Mural mulai memperlihatkan eksistensinya kembali melalui seorang
seniman imigran AS yang bernama Basquiat. Dia secara diam-diam membuat grafiti
di setiap sudut-sudut kota dan di stasiun dengan tulisan S.A.M.O. Hal ini kemudian
menginspirasi banyak seniman lain untuk berkarya di ruang publik. Salah satu
seniman yang terpengaruh adalah Keith Flaring yang kemudian banyak mengerjakan
dan dianggap sebagai seniman mural selama kariernya (Sentoso, 2003).
Mural mengalami
perkembangan tidak hanya di negara barat saja, tetapi juga berkembang di
indonesia dan dalam pembuatannya Mural seringkali dipadukan dengan seni
graffiti. Walaupun mural lebih mengutamakan gambar dan graffiti hanya tulisan,
tetapi ketika keduanya dipadukan maka kesan seninya akan lebih menonjol.
Seni mural di Indonesia
sudah ada sejak zaman perang kemerdekan. Pada saat itu, para pejuang
mengekspresikan keinginannya melalui grafiti. Walaupun dengan skill dan
peralatan yang masih sederhana, konsep tulisan di dinding menjadi paling aman
untuk mengekspresikan pendapat secara diam-diam pada saat itu (Gusman, 2005).
Situasi sosial negara,
khususnya di Indonesia, yang berkembang menjadikan pemerintahan negara yang
dinamis. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tentu saja berpengaruh
terhadap rakyatnya dan lumrah terjadi apabila dalam setiap kebijakan yang
dikeluarkan menimbulkan pro kontra karena tiap kebijakan dapat menimbulkan
opini menguntungkan pihak tertentu, merugikan masyarakat, dan lain sebagainya.
Indonesia sebagai
negara demokrasi membuat setiap orang bebas menyalurkan aspirasi atau
pendapatnya terhadap situasi sosial politik yang ada. Selama ini, media
penyalur aspirasi rakyat adalah melalui media cetak maupun media elektronik,
seperti surat kabar, televisi, radio, maupun internet. Namun, media penyalur
aspirasi tersebut akhirnya menjadi fenomena yang biasa karena kita melihatnya
setiap hari.
Gagasan kreatif yang
penulis ajukan dalam Program Kreativitas Gagasan Tertulis (PKM-GT) ini adalah
mengajukan konsep seni, dalam hal ini adalah seni mural, sebagai alternatif
media penyampai aspirasi rakyat. Melalui seni mural, masyarakat memiliki lahan
baru sebagai suatu inovasi penyampaian aspirasi mereka terhadap situasi sosial
politik negara ini yaitu kepada pemerintah. Seni mural yang selama ini dianggap
sebagai coretan kreativitas anak muda belaka ternyata memiliki sisi inovatif
lain yang dapat dikembangkan secara maksimal sehingga seni mural tidak hanya
terlihat dari sisi visualnya saja, tetapi juga memiliki makna didalamnya.
Praktik Seni Mural di
Kota-Kota Besar Indonesia Muralisasi bermunculan sejak diadakanya event
Jack@art 2001, yaitu lomba lukis mural yang diadakan komunitas mural di Jakarta.
Di Jogjakarta pemerintah kota juga memasyarakatkan mural melalui acara “Sama-sama
2001” yang melibatkan masyarakat Jogjakarta dalam rangka kampanye Jogjaku
bersih yang bekerja sama dengan komunitas Apotik Komik (Kompas, 5 Juni 2004).
Sedangkan di Solo, mural mulai marak pada saat diadakan lomba seni mural di daerah
Kertotiasan, yaitu acara yang dilakukan sebagai ajang untuk menyalurkan hobi
bagi anak-anak muda yang suka corat-coret dinding. Hal tersebut juga dimaksudkan
untuk mendukung program Pemkot Solo tentang larangan aksi corat-mencoret
(Kisawa,2004).
Di beberapa sudut
Jakarta terlihat seni mural dan grafiti bertema kontroversi RUU APP. Seni mural
dan grafiti ini dibuat oleh para mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta yang
tergabung dalam komunitas "Propagraphic Movement". Mereka telah
menyelesaikan lukisan jalanan ini di dua lokasi, di daerah Plumpang dan di Jalan
Pemuda.
Muhammad Ilham Suharta


0 komentar:
Posting Komentar